Belum Uji Klinis, Pemerintah Tak Dukung Obat Corona Unair -->
Cari Berita

Pages

Faktual - Berimbang

Belum Uji Klinis, Pemerintah Tak Dukung Obat Corona Unair

Thursday, June 18, 2020


Portalindo.co.id

Jakarta - Pemerintah tak akan meloloskan obat jenis apapun untuk menangkal virus corona (Covid-19) yang belum lolos uji klinis, di katakan Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. Hal ini menanggapi temuan lima regimen kombinasi obat corona dari Universitas Airlangga.

 

"Tanpa lolos studi klinis, obat apapun tidak akan memperoleh hak pemasaran. Kami tidak mendukung penggunaan regimen obat yang belum lolos uji klinis secara keseluruhan," ujar Wiku dalam konferensi pers, Kamis (18/6).

 

Wiku menuturkan saat ini pihak Unair masih menjalani penelitian praklinis terhadap lima obat kombinasi tersebut. Menurut Wiku, setiap jenis obat baru memang harus menjalani beberapa tahap penelitian untuk divalidasi sebagai obat yang kompatibel bagi manusia.

 

"Unair telah melakukan dua fase awal dalam tahap penelitian. Nantinya obat harus dikaji lagi pada uji klinis manusia demi memastikan keamanan dan kemanjuran untuk penyakit tertentu," katanya.

 

Selama studi klinis, lanjut Wiku, pihak Unair akan berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mendapatkan protokol tinjauan klinis yang harus diikuti.

 

"Mereka koordinasi dengan BPOM untuk tinjauan rencana studi klinis," ucap Wiku.

 

Tim peneliti Unair sebelumnya menemukan lima regimen kombinasi obat yang disebut bisa mengobati virus Covid-19. Lima kombinasi regimen itu berasal dari obat-obatan yang beredar di pasaran.

 

Kelima regimen kombinasi itu yakni lopinavir/ritonavir dengan azithromicyne, lopinavir/ritonavir dengan doxycycline, lopinavir/ritonavir dengan chlaritromycine, hydroxychloroquine dengan azithromicyne, hydroxychloroquine dengan doxycycline.

 

Penggunaan lima regimen kombinasi obat itu diklaim terjamin dan aman digunakan, lantaran berbahan dari obat yang telah lolos uji klinis fase 3 dan terdaftar di BPOM.


editorY@d