Kritikan Gubernur Anies tentang Gorong Gorong Raksasa untuk Deep Tunnel bukan JIT -->
Cari Berita

Pages

Faktual - Berimbang

Kritikan Gubernur Anies tentang Gorong Gorong Raksasa untuk Deep Tunnel bukan JIT

Saturday, January 4, 2020


Portalindo.co.id, Jakarta -  Gorong gorong raksasa untuk mengatasi banjir, adalah solusi yang ditampik Gubernur DKI Anies Baswedan.

"Ini melawan sunatullah, kenapa?, Air itu turun dari langit ke bumi, bukan ke laut. Harusnya dimasukan ke dalam bumi, ke dalam tanah. Di seluruh dunia, air jatuh itu dimasukkan ke tanah. Bukan dialirkan pakai gorong-gorong raksasa ke laut. Jakarta telah mengambil keputusan yang fatal," begitulah pidato Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang videonya viral lagi di internet.

Menurut Penggagas Terowongan Terpadu multi fungsi atau yang dikenal dengan Jakarta Integrated Tunnel (JIT) Wibisono,SH,MH menanggapi pertanyaan awak media terkait perihal pernyataan Gubernur DKI tersebut, Dia mengatakan bahwa yang dimaksud Pak Anies itu adalah "Deep Tunnel" yang digagas oleh Gubernur terdahulu pak Jokowi, pernyataan Anies tersebut dilontarkan saat jelang kampanye pilgub tahun 2017 yang lalu.

"Jadi pernyataan pak Anies ditujukan ke Deep Tunnel yang trasenya sampe ke pluit, yang airnya memang dibuang ke laut, sedangkan untuk JIT airnya tidak dibuang kelaut, tapi di manfaatkan untuk baku baku air minum dan menghasilkan listrik, jelas beda fungsinya," ujar Wibisono menyatakan ke awak media di jakarta sabtu sore (4/1/2020).

Lanjut Wibi, memang  ditahun 2014 ada dua usulan konsep terowongan yaitu Deep Tunnel dan JIT, konsep Deep tunnel di gagas oleh Firdaus ali dkk dan JIT digagas oleh PT.Antaredja Mulia jaya yang konsep dasar dari ahli Transportasi prof Agus Sidharta, dari sini mulai timbul kerancuan di masyarakat apa itu deep tunnel dan apa itu JIT?, padahal secara konsep dan fungsinya  jauh berbeda, inilah yang membuat Pak Anies mengkritik konsep gorong gorong raksasa tersebut, karena saat itu untuk kepentingan politiknya.

"Dan konsep Deep Tunnel sudah di drop oleh kementrian PUPR pada saat rapat kajian di balitbang PUPR pada tahun 2015 yang lalu, karena memang secara teknis tidak layak untuk dibangun, karena trase nya Deep Tunnel sampe ke pluit (air dibuang kelaut) sedangkan didaerah pluit ada 'land subsidence' (penurunan permukaan tanah) yang tidak direkomendasi oleh para ahli untuk dibangun tunnel, disamping itu terowongan "deep tunnel" dianggap terlalu dalam yaitu 60 meter dari permukaan tanah, kalo ada tolnya gimana kalo ada kecelakaan dan evakuasinya, yang terakhir konsep deep tunnel telah menarik fungsi pengendali banjirnya, sehingga dalam hasil kajian balitbang kementrian PUPR, JIT lah yang di rekomendasi untuk dilanjutkan, dan sudah mendapatkan rekomendasi teknis.

Ketika akhirnya Jakarta diterjang banjir awal tahun 2020, warga mempertanyakan kebijakan Anies. Video viral itu membuat orang bertanya-tanya, seperti apa teknologi gorong-gorong raksasa itu?

Ternyata, tidak usah jauh-jauh ke Eropa atau Amerika. Negeri Jiran Malaysia sudah menggunakan gorong gorong raksasa untuk pengendali banjir di kuala lumpur.

Ketika Jakarta masih berdebat soal solusi banjir, Kuala Lumpur sudah menikmati teknologi gorong gorong raksasa ini sejak tahun 2007, dan berhasil membebaskan Kuala lumpur dari banjir sampai saat ini.

Gorong-gorong ini membentang sepanjang 9,7 km, terpanjang di Asia Tenggara dan nomor 2 terpanjang di Asia. Ongkos bikinnya adalah Rp 7,1 triliun.

Fungsinya adalah menjadi solusi banjir bandang di Kuala Lumpur dan juga berfungsi sebagai jalan tol untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Kok bisa sekaligus begitu?, Tentu bisa dong, kalau ada akal.

SMART Tunnel berfungsi sebagai sodetan panjang dan raksasa yang menghubungkan Sungai Klang di tengah kota dengan Sungai Kerayong di pinggir kota Kuala Lumpur. Dari situ, air banjir masuk lagi ke Sungai Klang lalu dialirkan ke laut di Port Klang.

Gorong-gorong raksasa ini dibagi 3 tingkat. Paling bawah untuk air, tingkat tengah dan atas untuk jalan tol. Tapi, nah ini yang keren, kalau ancaman banjir di Kuala Lumpur parah maka jalan tol di tingkat kedua (bagian tengah) jadi jalur air. Kalau banjirnya super parah, maka tingkat atas pun berubah menjadi jalur air.

Saat banjir sudah surut, tingkat tengah dan atas akan dibersihkan dengan semprotan air bertekanan tinggi. Dalam 48 jam, gorong-gorong ini bisa dipakai lagi untuk jalan tol. Keren!

Atas inovasi ini, pada tahun 2011 SMART Tunnel mendapat penghargaan UN Habitat Scroll of Honour Award. Apakah teknologi ini melawan sunatullah? Entahlah, yang jelas Tuhan memerintahkan manusia untuk selalu berpikir.

Sedangkan JIT justru memperbaiki Smart Tunnel di malaysia, kalo dimalaysia hanya satu terowongan tapi JIT menjadi dua terowongan, dan satu terowongan tidak dibagi dua tingkat tapi hanya satu tingkat untuk jalur air dan jalur jalan tol, sehingga jalur tolnya bisa tiga line dan fungsi air dan tolnya terpisah sepanjang tahun / tidak dibuat bergantian, dengan dua terowongan ini maka JIT lebih banyak menampung air luapan sungai ciliwung dan pesanggragan yang berfungsi sebagai 'long storage' untuk bahan baku air minum.

JIT terdiri dari JIT 1 untuk membypas sungai ciliwung yang panjangnya 12KM - tolnya 9KM, dan JIT 2 untuk membypas sungai Pesanggrahan yang panjangnya 12KM - tolnya 8.9KM.

"Kalo di smart tunnel malaysia ada dua fungsi, JIT mempunyai empat fungsi yaitu : sebagai pengendali banjir, untuk jalan tol, untuk bahan baku air minum dan Menghasilkan listrik PLTM sebesar 7-15 Megawatt," ulas Wibi.

Maka dari itu, saat ini JIT akan segera di implementasikan oleh pemerintah pusat, dan saya yakin kritikan pak Anies untuk Deep Tunnel bukan untuk JIT, karena pada tahun 2017-2018 yang lalu wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno sudah merilis proyek ini untuk segera di bangun, tentunya atas persetujuan gubernur DKI,dan saya berharap proyek JIT tidak dikaitkan secara politik, karena ini karya anak bangsa, dan saya adalah profesional sebagai pengusaha bukan orang politik, kasian rakyat sudah menunggu solusi dari musibah banjir yang sudah menahun ini tanpa ada solusi yang kongkrit, " pungkas wibi. (*)


Editor : Zull