Portalindo.media, Jakarta - Forum Alumni Perguruan Tinggi se-Indonesia (FA PETISI) bertanggapan Kabinet Indonesia Maju yang belum lama dilantik Presiden Joko Widodo, hanya basa-basi saja. Bahkan, ada menteri yang baru dilantik bikin gaduh dan ada juga menteri yang "nyontek" program dari menteri sebelumnya.

"Sangat terlihat di Kabinet Sekarang ini adanya pembagian kue dengan mengakomodir seluruh elemen yang punya potensi menggoyang Pemerintahan Jokowi tanpa pertimbangan leadership, competency dan  integrity," ujar Ketua Petisi, Andi Razak Wawo kepada jurnas.com

Sehingga, menurut alumni Unhas ini,  beberapa Menteri yang ditunjuk bisa dikatakan sebagai Kabinet Basa Basi. "Untuk itu kabinet ini harus betul-betul diawasi kinerjanya setahun ke depan agar tidak  terjadi pemborosan anggaran dan kekacauan program kerjanya," ujar Andi Rasak Wawo melalui WhatsApp (11/11/19)

"Jika selama setahun programnya juga basa-basi saja, Jokowi sebagai Presiden yang punya hak prerogatif, segera reshuffle. Tidak pandang lagi menteri basa-basinya itu dari partai politik," tuturnya.

Ia juga mengatakan Menteri Agama Fachrul Razi misalnya, belum genap sebulan sudah bikin gaduh negara dengan urusan cadar dan celana cingkrang. Jadi gaduh masyarakat Indonesia, apalagi umat muslim yang merasa setiap saat selalu disinggung soal radikalisme,"tambahnya.

"Mantan militer masuk ke ranah agama. Tidak masalah, tapi latar belakangnya harus dipertimbangkan. Jangan disodor jadi menteri karena menjadi pendukung kampanye Jokowi saat Capres. Lagi-lagi hanya basa-basi," ujar Razak Wawo.

Lanjut Wawo, Misalnya lagi  Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziah. saat dengar pendapat dengan DPR beberapa waktu lalu, berkesan Menteri tidak punya program kerja. Bahkan di awal jadi Menteri, sudah menghindar dengan media ketika ditanya rencana kerjanya.
"Saya terenyuh ketika ada berita menteri menghindar dengan media dan  anggota dewan sudah langsung menuding Menaker dianggap tidak punya program. Bahkan dianggap "nyontek" menteri sebelumnya.  Dan saya anggap wajar, karena mungkin Menterinya tidak punya kapasitas yang terkait dengan ketenaga kerjaan," ujar Razak Wawo.

Padahal, sektor ketenaga kerjaan harus jadi andalan negara ini untuk mengurangi penggangguran. Apalagi memasuki  inovasi Industri 4.0,  karena peralatan pabrikasinya sudah menggunakan otomasi permesinannya yang dilengkapi  computerize programming.

"Jadi, Menaker tidak sekedar tahunya buruh dan pabrik. Tapi bagaimana berpikir peningkatan SDM yang mesti siap modernisasi. Menaker jangan fokus mikirin nasib TKI, justru gagasan mengurangi orang tidak menjadi TKI," ujar Razak Wawo.

Dari dua Menteri itu atau juga menteri lainnya, kata Razak Wawo tersebut, maka bisa ditafsirkan memang menteri Jokowi jilid 2 yang dinamai Kabinet Indonesia Maju, cenderung tidak punya "Modal" yang menguntungkan masyarakat. "Saya menyebutnya kabinet basa-basi. Jokowi ternyata sosok berkesan urus negara jadi lucu-lucuan," Tegas Wawo.(*)