Seminar Nasional Bertajuk "Peran Pemuda Dalam Menangkal Ekstrimis Diera Digital" Dihadiri Tokoh-Tokoh Jawa Barat
Cari Berita

Seminar Nasional Bertajuk "Peran Pemuda Dalam Menangkal Ekstrimis Diera Digital" Dihadiri Tokoh-Tokoh Jawa Barat

Rabu, 30 Oktober 2019


Portalindo.co.id, Bandung --- Sebuah gerakan radikal merupakan langkah yang harus ditempuh dan dilaksanakan bagi kawan-kawan mahasiswa, karena sebuah gerakan tanpa aksi radikal tidak bisa memutuskan hal yang lebih baik, demikian hal dengan kebijakan, tetapi jangan menggunakan cara-cara ektrimis dan intoleransi, karena dampaknya sangat merusak.
Hal itu disampaikan dalam kesempatan Seminar Nasional oleh  aktivis yang juga ketua RIM (Rumah Indonesia Merdeka), aIrwan Suhanto, SH melalui tema "Peran Pemuda Menangkal Ekstrimis di Era Digital" di Hotel Bumi Kitri, Cikutra, Bandung, Jabar (29/10/2019). Dalam kesempatan tersebut hadir Drs. Nu'man Abdul Hakim (Tokoh masyarakat/wakil Gubernur  Jabar 2003-2008), Dr. Dadan Suherdiana (Wakil Dekan lll Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung).

Lebih lanjut dikatakan bahwa mahasiswa di era 98 susah mencari buku-buku yang bisa menjadi inspirasi untuk melakukan sebuah gerakan. Di era sekarang dunia ada dalam gengaman, karena apa yang terjadi dibelahan dunia yang lain, dalam detik yang sama bisa disaksikan.
Semestinya gerakan mahasiswa diawali baca, diskusi, konsolidasi baru melaksanakan aksi, tetapi sekarang konsolidasi langsung aksi. Mahasiswa harus punya gagasan, karena republik tidak boleh kosong dengan gagasan. Jangan Pancasila dipersepsikan dengan kehendak kekuasaan. Yang dihadapi saat ini bukan hanya ekstrimis tetapi juga liberalisasi.

Sedangkan Drs. Nu'man Abdul Hakim tokoh masyarakat yang juga Wakil Gubernur Jawa Barat periode (2003-2008) dalam kesempatan yang sama menyampaikan “pemuda yang kritis terhadap permasalahan merupakan hal yang harus dilakukan. Anak muda jangan dimatikan dengan gerakan, tetapi harus diajak diskusi dengan semua kalangan."Pungkasnya

Lebih lanjut menjelaskan “sekarang ini yang sangat memprihatinkan adalah munculnya pandangan mengarah pada kafir dan bukan kafir. Pandangan ekstrimisme seperti ini sangat membahayakan dan menjadi tantangan bagi semua pihak.
Untuk mencegah sikap ekstrimis, kepala rumah tangga harus menjadi komandan, memberikan arahan yang paling bijak. Menjunjung tinggi adat istiadat harus dipraktekan dilingkungan keluarga.
Ideologi tidak bisa dibunuh, tetapi ideologi bisa diberikan gagasan yang argumentatif dan masuk akal. Harus dilawan ekstrimis yang mengatakan negara ini tidak sah. Lawan kepada mereka yang mengatakan hanya cara mereka yang tepat untuk bisa mengurus negara. Demokrasi yang sangat liberal harus dikritisi karena tidak tepat diterapkan disini.

Sedangkan Dr. Dadan Suherdiana (Wakil Dekan lll UIN Bandung) mengatakan,
Komunikasi penyiaran Islam harus ditingkatkan untuk memupuk semangat nasional dan untuk menyikapi isu-isu tingkat nasional.

Kedepan harus memiliki visi dan misi yang lebih maju secara nasional, regional, dan internasional. Kita bersatu untuk Indonesia yang lebih maju lagi.

Sementara itu, Demisioner  Penyiaran Islam Anwar Aziz mengatakan, keberadaan kita di sini tidak lain adalah untuk kemajuan penyiaran Islam. Tugas terberat adalah menyakinkan bahwa seluruhnya sebagai anggota tidak terjangkit radikalisme.(*)