Portalindo.co.id, Jakarta -- Kumpulan pemuda dan mahasiswa asal Papua di Jakarta yang tergabung dalam “Koalisi Muda Papua” menggelar acara diskusi bertema “Papua=Indonesia, Indonesia=Papua”. Acara yang turut mengundang Pengamat Politik, Dr. Ade Reza Hariyadi, Intelektual Muda Papua Jusman Nortonggo, dan Aktivis Muda Papua, Basri Nabi sebagai narasumber digelar di Cilosari, Cikini, Jakarta, Sabtu (28/9) petang.

“Secara yuridis dan historis Papua merupakan wilayah kolonial Belanda maka secara hukum internasional, tidak dapat dibantah bahwa Papua merupakan bagian dari Indonesia”, terang Dosen Pascasarjana Unkris, Dr. Ade Reza.

Pria yang akrab disapa bang Reza ini juga menambahkan bahwa kondisi konflik di Papua juga dimanfaatkan pihak internasional untuk mengintervensi Indonesia. “Munculnya eskalasi gejolak di Papua tidak hanya pengaruh penyampaian aspirasi lokal, namun apabila cermat dan teliti hal ini dimanfaatkan negara lain yang ingin mengintervensi Indonesia untuk melakukan proxy war”.

“Perhatian pemerintah yang sedang giat melakukan pembangunan di Papua perlu diapresiasi dan dilakukan pendampingan agar tepat sasaran serta memberikan manfaat bagi kemaslahatan. Pemuda Papua harus cermat sehingga tidak mudah terpovokasi isu yang dapat kontraproduktif dengan pembangunan yang sedang dan terus dilakukan pemerintah”, tutupnya.

Hal senada juga diungkapkan Jusman Nortonggo yang juga hadir dalam acara tersebut. Menurutnya, “usaha pembangunan yang tengah diupayakan oleh Presiden perlu didukung oleh semua pihak termasuk meningkatkan kualitas SDM itu sendiri”.

“Bagaimanapun Papua merupakan bagian dari Indonesia, tanpa Papua maka tidak ada nama Indonesia, Papua sama dengan Indonesia, Indonesia juga sama dengan Papua”, imbuhnya.

Sementara, Aktivis Muda Papua, Basri Nabi menyinggung pentingnya fokus pengembangan SDM masyarakat Papua guna mengimbangi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah.

“Pembangunan tidak boleh berfokus pada infrastruktur, namun juga pada pembangunan SDM dalam mengantisipasi upaya kelompok pro OPM untuk melakukan cuci otak adik-adik pemuda di Papua untuk menolak NKRI”, ucap Basri. (AT/red)