Header Ads


Breaking News

Hoacx Jelang Pemilu 2019


Oleh : Nahdiyaty Nurrahmi

Portalindo.ci.id, Jakarta --
Seiring bergulirnya waktu mendekati pemilu tahun 2019 banyak sekali peristiwa muncul yang mampu menarik perhatian. Salah satunya yaitu penyebaran berita bohong atau hoax. Menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berita bohong menjelang pemilu cukup marak.
     Munculnya berita yang menarik tetapi luput dari kebenaran ini dapat memancing amarah, permusuhan dan menyudutkan satu pihak. Entah apa motif pastinya sehingga memilih cara menyediakan berita bohong sebagai konsumsi publik. Salah satu contoh berita bohong yang sempat viral yaitu tentang surat suara tercoblos dan beritanya tersebar di media sosial. Kasus berita bohong ini sekarang sudah diproses dan tersangka yang membuat dan menyebarkan berita ini sudah ditangkap oleh pihak kepolisian.
     Munculnya fenomena berita bohong menjelang pemilu memang tidak mudah untuk dihindari dan akan terus ditemukan mengingat penyebaran berita dapat dengan mudah menyebar di media sosial. Sebenarnya dengan kondisi seperti inilah rakyat Indonesia sedang diuji.
     Pemilu merupakan pesta demokrasi yang melibatkan seluruh rakyat Indonesia. Hal ini direaksikan berbeda-beda oleh rakyat Indonesia karena rakyat mempunyai karakter yang berbeda pula. Bagaimana rakyat bereaksi terhadap pemilu? Apakah reaksi rakyat baik atau tidak baik? Pembuatan berita bohong merupakan contoh dari reaksi tidak baik terhadap pemilu.
     Sebenarnya, secerdik apapun oknum yang membuat dan menyebarkan berita bohong dapat dikalahkan dengan masyarakat yang bijak. Bijak dalam hal ini adalah sadar untuk berpikir kritis dengan tidak langsung menerima mentah-mentah berita yang sumbernya belum jelas dan tidak langsung menyebarkannya. Masyarakat jangan sampai minim literasi, maksudnya jangan hanya mempercayai satu sumber berita. Penasaran lah dengan pihak terkait yang disudutkan. Cari lagi sumber-sumber berita yang lain. Lebih baik lagi jika mampu menanyakan secara langsung kepada pihak terkait. Cara sederhananya, cukup dengan dua hal ini kita mampu melawan hoax. Sifat bijak dan perilaku tidak minim literasi diibaratkan penyaring agar kita tidak termakan hoax.
     Bayangkan saja bagaimana kejamnya hoax, membuat kita bermusuhan yang tentunya bisa mengancam persatuan bangsa, saling meremehkan, dan tidak semangat mencoblos sampai akhirnya golput. Bila kita termakan hoax apalagi sampai ikut menyebarkan, tentu sama saja ikut menggoyahkan persatuan bangsa. Persatuan bangsa dibutuhkan untuk dapat membuat pesta demokrasi ini berjalan lancar. Pemilu sebenarnya merupakan hak rakyat sebagai bukti nyata bahwa rakyat ikut berperan dalam politik bangsanya.
     Pemilu menentukan nasib bangsa Indonesia 5 tahun kedepan. Jika kita berhasil melawan hoax maka terhindarlah kita dari permusuhan dan kerumitan pikiran sehingga kita bisa lebih mantap dan tenang menentukan pilihan siapa nantinya yang memimpin bangsa Indonesia. Hingga pada hari pelaksanaannya, pemilu terselenggara secara damai, berkualitas dan bermartabat.
     Memilih pemimpin yang sesuai dengan hati nurani merupakan kepuasan tersendiri. Rasa senang tercurahkan saat pasangan yang kita pilih menang, secara sah terbukti mendapatkan suara terbanyak dan maju untuk memimpin bangsa Indonesia. Terpilihnya pemimpin dari pemilu yang damai, bebas dari kecurangan dan angka golputnya yang rendah merupakan gambaran kesuksesan pemilu. Pemilu yang sukses menghasilkan pemimpin bangsa terbaik dan berkualitas.
     Para pemimpin lah yang membawa Indonesia dan mengarahkan mau kemana selanjunya negeri ini. Rakyat berharap pada saat menjabat mampu membawa Indonesia menjadi lebih maju, melanjutkan pembangunan dan melakukan perbaikan. Tidak ada yang tidak mungkin, jika kita sebagai rakyat Indonesia mau berusaha untuk melawan hoax. Semua ini dilakukan agar terwujudnya keberlanjutan pembangunan nasional.(Red)

Tidak ada komentar