Header Ads


Breaking News

Fenomena Hoax Di Musim Pemilu 2019 : Baca Cermati Jangan Mudah Baper Terhadap Suatu Pemberitaan


Oleh : Salma Putri

Portalindo.co.id, Jakarta --
Di zaman globalisasi ini apa yang kita butuhkan dapat di akses dengan mudah terutama berkaitan dengan suatu pemberitaan yang bisa disajikan dalam bentuk media cetak seperti koran atau majalah,atau pun siaran televisi,internet,dan sebagainya. Pada zaman ini orang lebih sering mengakses pemberitaan melalui internet atau media sosial khususnya masyarakat Indonesia,hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh We are Sosial dan Hootsuite dalam penelitiannya yang mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia sangat gemar mengujungi media sosial. Bukan berarti Indonesia tidak menonton televisi untuk mendapatkan berita,di Indonesia televisi masih dominan dibandingkan media sosial.
      Berita bohong atau dikenal dengan berita hoax kian meraja rela yang dilakukan oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggung jawab. Sehingga hal tersebut bisa memecah belah suatu negara yang berbeda pandangan khususnya di Indonesia. Orang Indonesia mudah termakan oleh berita hoax yang belum tentu kebenarannya. Mereka sangat sensitive terhadap pemberitaan yang mengandung SARA. Saat ini banyak pemberitaan yang mengaitkan dengan agama atau ujaran kebencian hal tersebut pemicu permusuhan suatu bangsa.
      Suasana pemilu serantak yang akan dilaksanakan tanggal 17 April 2019 sudah mulai terasa yang melibatkan pemilihan presiden wakil presiden,dan dewan legislatif. Para calon melakukan kampanye untuk menarik para pemilih dimulai dari pemasangan baliho atau pamflet,tak ketinggalan mereka memanfaatkan media sosial. Media sosial dianggap sangat efektif untuk melakukan suatu kampanye karena dengan hal tersebut mereka berkesistensi memposting segala kegiatan kampanyenya agar di ketahui khalayak.
Berita hoax bertujuan tidak lain untuk keuntungannya sendiri seperti mendapatkan banyak viewers, bisa juga untuk menjatuhkan para calon pemimpin agar masyarakat ragu untuk memilih,hal terburuk yang berkaitan dengan pemberitaan hoax adalah masyarakat menjadi apatis terhadap pemberitaan dengan konten politik dan tidak percaya terhadap para calon pemimpin yang sebenarnya memilki potensi memimpin negara. Boleh jadi meraka beranggapan bahwa saat ini para calon pemimpin di mata mereka hanya sekedar tebar popularitas saja dan enggan memilih pada saat dilaksanakan pemilu 2019.
      Berita hoax kian tak terkendalikan keberadaannya dan menjadi persoalan yang cukup serius di Indonesia. Yang menarik saat ini pemberitaan mengenai pemilu 2019 yang tersebar di akun facebook,twitter,Instagram,dan lain-lain sehingga banyak pemberintaan hoax yang terditeksi oleh  kominfo seperti voting online yang dilakukan KPU.
Pemeberitaan Hoax memang sulit dihindari namun ada beberapa upaya yang dapat kita lakukan agar tidak termakan oleh suatu pemberitaan hoax yaitu jangan mudah terprovokasi artinya kita harus membaca dengan cermat dimulai dari judul dan isi pemberitaan, mencari fakta maksudnya kita tidak hanya stalk di satu situs saja untuk memastikan apakah berita itu benar terjadi atau tidak,penegcekan alamat situs web ini sangat penting dilakukan jika kita memperoleh suatu berita yang didapat dari blog maka informasinya belum sepenuhnya benar.
  Rakyat Indonesia memiliki kelemahan dalam membaca mereka mudah percaya terhadap pemberitaan dan dengan kepolosannya mereka men-share pemberitaan yang belum benar keberadaannya akun media sosial miliknya. Sehingga tidak heran banyak rakyat Indonesia yang menjadi korban kebohongan berita. Mereka belum bisa mendeteksi berita hoax.
Upaya yang dilakukan pemerintah adalah memperkuat undang undang IT agar memberikan efek jera kepada para oknum penyebar hoax. Namun upaya pemerintah belum begitu maksimal. Hal ini menandai peran masyarakat dan pemeritah  untuk mampu berkolaborasi dalam memberantas berita hoax. Cara yang mungkin bisa di terapkan  bagi masyrakat agar tidak menjadi korban berita hoax yaitu harus cermat dan teliti ketika membaca berita jangan mudah baper alias bawa perasaan terhadap suatu Pemberitaan sehingga menimbulkan penafsiran yang membawa pada suatu tindakan yang tidak diinginkan. Apalagi pemberitaan itu menyangkut perihal pemilu 2019 misalnya membuat berita hoax tentang calon presiden wakil presiden dengan cara menjatuhkan pihak lawan dengan kejadian yang tidak sesuai fakta. Tujuannya tidak lain untuk merebut hati masyarakat. Sebagai negara yang demokrasi tidak etis bersaing secara tidak sehat dengan menjatuhkan para paslon atau pemberitaan hoax hanya untuk mendapatkan kursi pemerintahan. Untuk itu mari kita berantas segala pemberitaan hoax yang hanya membuat kita terjebak dalam berpikir jernih demi mewujudkan pemilu 2019 yang berjalan damai, berkualitas dalam mewujudkan bangsa yang bermartabat.(Red)

Tidak ada komentar