Header Ads


Breaking News

Politisasi Masjid, Perlukah?

Oleh : Aldia Putra )*
Bagi umat muslim, masjid memiliki peran strategis, tidak hanya dalam hal ibadah saja, tetapi banyak dimensi yang lain termasuk politik. Namun banyak pihak yang tidak senang jika terdapat indikasi politisasi di masjid terutama untuk urusan elektoral.
Sudah sejak lama ribut – ribut soal politisasi masjid muncul ke permukaan. Masyarakat mengeluhkan di beberapa masjid tertentu, ada yang dakwahnya dibumbui politik partisan dan juga paham radikal dari balik mimbar masjid. Hal inilah yang menyebabkan banyak masyarakat yang tidak ingin apabila masjid digunakan untuk urusan politik.
Meski memegang peranan yang berbau politis, idealnya tempat ibadah seperti masjid memang tidak mengarah untuk kepentingan politik partisan. Disinilah kesucian masjid sebagai tempat ibadah ternodai. Sebagai tempat yang memegang peran penting dalam peradaban, masjid justru direndahkan untuk kepentingan politik pribadi atau figur tertentu.
Publik merespons buruk sikap sejumlah masjid dan penceramahnya ada saat gelaran tersebut berlangsung. Masjid tempat mereka untuk beribadah justru semakin dijauhi karena masjid di monopoli oleh kelompok tertentu untuk berkampanye.
Meskipiun dianggap buruk, Pilgub DKI Jakarta 2017 justru menjadi penanda  dimulainya aksi politis yang seakan menjual politik elektoral dari balik mimbar masjid.
Tumbangnya kandidat lawan melalui isu yang disebarkan dari masjid, menjadi bukti dari kuatnya peran insitusi tersebut. Oleh karena itu, langkah tersebut disinyalir akan melaju ke berbagai kontestasi lainnya, termasuk Pemilu 2019. 
Tak sedikit yang menilai bahwa masjid memang hanya digunakan untuk tempat ibadah saja. Akan tetapi, jika melihat sejarah dan fungsi pembangunan tersebut, sebenarnya kegiatan yang dilakukan tidak terbatas pada hal – hal yang berbau ritual keagamaan saja. Pada Zaman NabI Muhammad SAW hingga saat ini, masjid memegang urusan dalam berbagai dimensi umat Islam.
Jika ditelusuri, peradaban Islam sangat bergantung pada masjid. Bangunan suci tersebut selama bertahun – tahun telah manjadi pusat pemikiran, pendidikan, strategi perang dan juga pemerintahan.
Di era Muhammah SAW, masjid juga menjadi arena mobilisasi yang efektif. Berbagai ceramahnya dari dalam masjid, berhasil memobilisasi umat untuk ikut berbagai perang membela panji Islam.
Namun apabila masjid digunakan untuk kepentingan semacam politik elektoral sampai pada ujaran kebencian, maka masjid hanya akan menjadi arena memecah belah, karena politik yang seperti itu, menurutnya bersifat divisif. Akibatnya, masjid yang menjadi sumber peradaban justru menjadi sumber kontestasi politis dan konflik antarumat.
Politisasi masjid dapat didefinisikan sebagai penggunaan masjid sebagai alat dalam memburu kepentingan politik seseorang. Masjid bukan sebagai tempat penyadaran atau pendidikan politik. Melainkan dijadikan tungganngan bagi kepentingan politik tertentu.
Politisasi masjid ternyata dapat menumbuhkan religiusitas musiman. Tiba – tiba ada orang – orang yang di musim politik atau kampanye menjadi sangat sadar agama. Padahal sebelum masa politik mereka sama sekali tidak mau, bahkan malu menampakkan sisi keagamaannya.
Politisasi masjid inilah yang sesungguhnya sangat tidak relevan dengan masjid. Ini merupakan bentuk penunggangan politis dan hal seperti ini sebaiknya jauh dari masjid.
Masjid bukan hanya sebagai tempat sujud dalam arti kegiatan ritual saja. Masjid justru pusat sujud dalam arti menyeluruh. Sujud dalam arti menyeluruh bahi seorang muslim adalah pengabdian totalitas seorang hamba kepada Rabbnya.
Setuju atau tidak setuju, pada kenyataannya memang demikan. Bahwa agama dan kehidupan publik di Negara Indonesia tidak bisa dipisahkan. Keputusan publik yang tidak menghiraukan nilai – nilai agama justru dapat dianggap sebagai kebijakan yang inheren.
Masjid harus dijadikan sebagai salah satu pusat penyadaran atau pendidikan politik bagi umat. Alangkah ruginya secara politik umat ini jika masjid hanya dijadikan tempat ritual ibadah.
Apabila politisasi masjid ditujukan untuk kebaikan umat, maka peran yang harus lebih banyak dimainkan adalah mengenai pendidikan politik bagi umat. Hal ini dikarenakan ilmu politik Islam sangat berkembang saat diajarkan dari Masjid.
Jika fungsi pendidikan ini diutamakan ketimbang politik partisan, maka politisasi masjid akan bermanfaat pada kemajuan peradaban Islam seperti pada era keemasan Islam dulu. 
Segala upaya yang mengarahkan pada kampanye politik ataupun hasutan untuk membenci, tentu perlu dijauhkan dari masjid. Politisasi masjid yang semacam itu harus ditolak. Para takmir sebaiknya mulai berpikir untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat untuk membina umat.
Jika agama disalahgunakan dan dijadikan alat untuk mempolitisasi suatu kepentingan tertentu, hal tersebut merupakan perbuatau sesat.
Agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dunia. Agama ialah landasan etik moral dalam berbagai dimansi termasuk didalamnya urusan politik. Para pemimpinnya juga harus memahami nilai – nilai agama dan memiliki sikap serta karakter yang berbarengan nilai agama, sehingga agama jangan dipolitisir untuk kepentingan politik.
Oleh karenanya diperlukan pemahaman yang imbang, inklusif dan rasional. Pemahaman seperti ini akan melahirkan pemahaman perilaku politik yang wajar, imbang dan inklusif.
Memisahkan politik dari agama memang manjadi sebuah keharusan bagi negara – negara yang menganut paham sekuler. Karena memang agama sama sekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun inilah keunikan Indonesia. bahwa Indonesia memang bukan negara agama. Tetapi agama menjadi bagian mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu segala macam upaya dakwah yang berpotensi memecah belah bangsa patutlah dicurigai.
Alangkah baiknya masjid menjadi pusat untuk saling merekatkan persatuan antar umat walaupun ideologi politiknya berbeda.
Segala upaya politisasi masjid memang harus ditolak, karena negara ini butuh persatuan yang kuat untuk menjaga keamanan internal bangsa. (red)

)* Penulis merupakan pegiat media sosial

Tidak ada komentar