Header Ads


Breaking News

Jangan Nodai Pesta Demokrasi Dengan Hoax


Penulis: Gandi Widiyantoro

Portalindo.co.id, Jakarta --Menjelang pelaksanaan Pilkada serentak pada bulan April 2019 mendatang, Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara mengajak masyarakat agar lebih waspada dan mencerna setiap informasi yang didapatkan sehingaa seluruh masyarakat dapat menikmati pesta demokrasi dengan penuh edukatif. Menteri Rudiantara juga berharap masyarakat bisa lebih cerdas dan kritis menaggapi berbagai isu politik agar tidak mudah termakan hoax.
Melihat dari fenomena di media sosial, tahun 2018 dan 2019 merupakan masa-masa persebaran hoax paling tinggi dibanding dengan tahun sebelumnya. Hoax adalah informasi atau berita bohong yang disebarkan kepada publik untuk tujuan tertentu. Memasuki masa kampanye, persebaran informasi hoax dan berita bohong semakin masif dan tidak terkendali. Berita online, media sosial, grup-grup WhatsApp, dan sejenisnya, tidak lepas dari kebohongan dan hoax. Ternyata hoax tidak hanya diciptakan oleh orang-orang biasa yang iseng untuk mencari sensasi. Namun saat ini hoax sudah diciptakan secara terencana dan terarah, dengan tujuan mempengaruhi masyarakat sesuai keinginannya.
Masih ingat dengan Ratna Sarumpaet? Ya, Ratna sangat cocok dinobatkan sebagai tokoh hoax nasional. Mengapa?? Ratna sendiri adalah seorang aktor dari bagian skenario politik untuk membuat jelek citra pemerintah, citra Presiden RI, citra Jokowi. Tentu saja yang memainkan skenario adalah lawan Jokowi, Prabowo cs. Ratna yang merupakan juru bicara 02 dengan lantang mengaku dipukuli oleh preman bayaran pemerintah sehingga wajahnya bonyok di media massa. Dengan skenario yang indah, Prabowo dengan sigap merespon ‘alih-alih membela Ratna”  mengadakan konferensi pers dan membenarkan bahwa Ratna keroyok preman bayaran pemerintah. Dan ternyata itu semua hoax.
Di berbagai media sosial, kubu 02 sudah terkenal dengan strategi politik hoax. Banyaknya kebohongan yang disebarkan oleh kubu 02, membuat predikat hoax semakin melekat. Ingatkah kalian bahwa Prabowo pernah mengatakan Haiti di Afrika? Bagaimana bisa orang setingkat Capres tidak tahu negara Haiti? Lalu apa kabar selang darah RSCM, yang dikatakan telah dipakai lebih dari 40 orang. Yang terbarunya lagi dalam acara debat Pilpres, pasangan dari Prabowo ini mengatakan, Jawa Tengah lebih besar dari Malaysia. Sungguh terlalu... mungkin sebagai Netizen kita hanya bisa berkata: “Astaghfirullah, gobloknya natural.”
Hoax memang menyebar secara cepat melalui berbagai media. Perkembangan teknologi diiring penggunaan smartphone yang semakin bertambah, menyebabkan persebaran hoax kian masif di berbagai kalangan. Oleh karena itu, Kominfo turut bergerak aktif melalui berbagai macam sosialisasi agar masyarakat terhindar dari hoax.
Dalam setiap sosialisasi baik dari Kominfo maupun LSM selalu mengingatkan dan menghimbau kepada masyarakat, bahwa hal mendasar untuk mencegah beredarnya hoax adalah kesadaran menghemat pulsa dan kuota. Jika kita menerima video, foto, teks dan lain sebagainya dari sumber yang tidak jelas informasinya atau berpotensi hoax, lebih baik hapus atau jangan disebarkan, daripada menghabiskan kuota dan menambah dosa. Selain, dapat mengurangi berita hoax akan berdampak positif dalam meredam perpecahan dan permusuhan di masyarakat.
Semua pihak berharap agar pesta demokrasi tahun ini merupakan ajang guyub rukun masyarakat, sehingga semua orang merasa bahagia tanpa ada permusuhan. Tentu saja untuk mencapai tujuan tersebut, harus ada kesadaran dari semua golongan, baik itu masyarakat, Timses peserta Pemilu bahkan siapapun harus bisa mengurangi hoax secara bersama-sama melalui semangat Kebhinekaan. (Red)

*) Mahasiswa Universitas Pancasila

Tidak ada komentar