Header Ads


Breaking News

Darmim Nasution : 4 Tahun Fokus Pada Pembangunan Di Bidang Infrastuktur Fisik

Portalindo.co.id, Malang -- Pemerintah tengah mencoba untuk membangun infrastruktur industri. Tujuannya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara jangka panjang. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan dalam empat tahun terakhir pemerintah tengah fokus pada pembangunan di bidang infrastruktur fisik. Salah satu contohnya seperti jalan tol dan bandara. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution

"Pemerintah mendiversifikasi fokus pembangunan infrastruktur. Dalam hal ini, pemerintah tidak hanya akan mengembangkan infrastruktur fisik, melainkan infrastruktur industri, serta iklim perizinan dan kemudahan berusaha," katanya di UMM, Kamis, 13 Desember 2018.

Menko Darmin menjelaskan infrastruktur industri tersebut terdiri dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Kawasan Industri, dan Kawasan Pariwisata Terpadu. Pembangunan infrastruktur industri ini sendiri dilakukan untuk merealisasikan Revolusi Industri 4.0 melalui inisiatif Making Indonesia 4.0.

Inisiatif ini diharapkan mampu memberikan sejumlah dampak. Mulai dari revitalisasi sektor manufaktur, meraih posisi kembali sebagai net export, meningkatkan kekuatan keuangan negara, meningkatkan belanja negara, meningkatkan investasi, hingga membangun ekonomi yang kokoh.

Disisi lain, Darmin menegaskan bahwa dana pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah selama ini tidak hanya berasal dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN). Namun juga dengan dukungan swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Dalam hal ini, dana APBN yang teralokasi untuk infrastruktur hanya mencapai 10 persen, sedangkan 51 persen berasal dari sektor swasta dan 39 persen dari BUMN. Dengan begitu, diversifikasi fokus pembangunan infrastruktur ini juga perlu didorong dengan memberikan kemudahan berusaha bagi para investor untuk memperbaiki iklim investasi.

"Pertumbuhan ekonomi biasanya meningkatkan impor, sehingga pemerintah merumuskan pemberian insentif untuk industri yang susah dihasilkan di Indonesia, seperti industri kelompok besi dan baja dan industri petrokimia. Seharusnya, industri-industri ini dikerjakan 20 tahun yang lalu, karena saat itu kita masih surplus migas,” pungkasnya. (amr)

Tidak ada komentar