Header Ads


Breaking News

ULAMA TANGERANG RAYA SERUKAN EKS HTI BERTAUBAT KEMBALI PADA BUMI PERTIWI



PORTALINDO.CO.ID, KOTA TANGERANG - Disela-sela kegiatan sejuta ijazah dan membaca hizib nashor bersama Abuya Muhtadi Dimyati mufti Banten, ulama Tangerang Raya menyerukan eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTi)  bertaubat. Hal ini terkuak dalam penyataan  sikap, Senin 05 November 2018, di Pondok Pesantren Raudhatussalam, Cimone,  Karawaci,  Kota Tangerang.

KH. Encep Subandi pengasuh pondok pesantren Nur Antika Tigaraksa Kabupaten Tangerang ketika membacakan seruan terus mengingatkan kepada seluruh eks organisasi terlarang, dalam hal ini Hizbut Tahrir Indonesia (Indonesia)  untuk bertaubat karena telah menyesatkan, menthagutkan, dan mengkafirkan sistem pemerintahan demokrasi, berarti sama saja telah menyesatkan dan mengkafirkan produk produk yang lahir dari demokrasi. Sebab itu, secara tidak langsung telah menyesatkan pancasila, UUD 1945, Presiden dan Wakil Presiden, DPR,  MPR dan produk hasil pemerintahan demokrasi.

Tidak hanya itu, Hizbut Tahrir Indonesia telah melakukan pembohongan terhadap publik dan umat. Pasalnya bendera berupa liwa dan raya bertuliskan tauhid yang diakui oleh Hizbut Tahrir Indonesia sebagai panji atau bendera resmi Rasulallah adalah klaim sepihak oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan pembodohan umat. Sebab, hadits yang diadopsi oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah dhaif, lemah, musnad wahin, dan majhul.

Dalam kajian ilmu hadits bahwa sesuatu yang lemah dan majhul (tidak jelas) status periwatanya maka hukumnya ditolak.  Artinya Hizbut Tahrir Indonesia telah berkiblat pada hadits yang ditolak untuk melegitimasi, dan membodohi serta membohongi umat.

Maka apabila terdapat bendera yang bertuliskan tauhid maka hal tersebut bukanlah panji sebagaimana Rasulallah contohkan, yakni hitam dan putih tanpa tulisan tauhid, melainkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang mencatut kebesaran kalimat tauhid.

Selain itu, Hibut Tahrir Indonesia (HTI) telah menistakan dan mendzalimi kemuliaan liwa dan raya karena tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pasalnya bendera tersebut tidak bisa digunakan ketika dalam kondisi damai, nyaman dan aman.

Isi pernyataan lainnya, Ulama Tangerang Raya mendukung kepada kepolisian Republik Indonesia dan Kementerian Dalam Negeri untuk menertibkan organisasi terlarang, berikut perangkat dan simbol simbol kebesarannya sesuai perundang-undangan yang berlaku.

Kemudian, ulama mengajak kepada seluruh umat Islam, baik kyai, ustadz, dan masyarakat umum serta warga bangsa untuk pintar bertabayyun, tidak termakan dengan share share fitnah, hoax, menghina, dan menjatuhkan orang lain atau golongan yang muncul dari dunia media sosial.
Mereka (ulama)  menyarankan bertanya pada yang memang ahlinya. Sebab itu, share media sosial yang menjurus pada argumen tidak baik dan merugikan orang lain ataupun golongan maka dilarang untuk dijadikan rujukan. Jika benar adalah ghibah, namun jika salah adalah fitnah.

Terakhir untuk kepastian hukum fiqh, maka ulama Tangerang Raya meminta fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai organisasi berkumpulnya para ulama secara struktural pemerintahan untuk berfatwa tentang hukumnya menulis teks Al qur'an atau asma al azhom di baju, bendera dan lain lain. Fatwa MUI akan menjadi rujukan hukum fiqh dan meluruskan pemahaman terhadap pandangan umat yang mungkin tidak mengetahui dasar dasar hukum fiqhnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Raoudhatussalam, KH Abdul Mu'thi menjelaskan bahwa tens pernyataan ini selanjutnya akan disampaikan langsung kepada Kepolisian Republik Indonesia, Kementerian Dalam Negeri, DPR dan lembaga lembaga terkait. Bahwa apa yang dilakukan oleh para ulama sejatinya dalam rangka meluruskan pemahaman umat untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Indonesia sudah final, Pancasila dan UUD 1945 adalah ijtihad kesepakatan pendiri bangsa yang di dalamnya terdapat pemikiran ulama. Maka sudah sepantasnya kita menjaga dan mengamalkannya." tambahnya.

Hadir pada kegiatan tersebut para alim ulama Tangerang Raya, di antaranya KH. Hasun Ma'ruf, KH. A. Tibyani, KH. Ending, KH. Sahruwardi, dan ribuan jamaah lainnya berbaur bersama dalam membaca hizb nashar. Acara ditutup dengan pengajian kitab Nihayatuz Zain karya Syaikh Nawawi al Bantani oleh Abuya Muhtadi Dimyati.

Admin.
Ida.B

Tidak ada komentar