Header Ads


Breaking News

Proyek Jalan Tol, Pelepasan Lahan Milik Jali Tak Kunjung Selesai, Ternyata Ini Penyababnya



KAYUAGUNG (portalindo.co.id)-- Proyek Pembangunan Jalan Tol Pematang Panggang-Kayuagung sepertinya masih memiliki sedikit masalah. hal tersebut diduga dikarenakan soal ganti untung lahan milik keluarga Jali, warga Desa Arisan Buntal Kecamatan Kayuagung, Kabupaten OKI, Sumsel.


Lahan yang memiliki luas sekitar 2977 m2 di STA 184-100 Waskita Karya Sesi IV belum diganti untung oleh pihak pengembang Jalan Tol Pematang Panggang-Kayuagung.


Rusyadi (42) warga desa Serigeni Kecamatan Kayuagung, mewakili keluarga Jali saat disambangi dirumahnya, Senin (22/10/2018) mengatakan masalah ganti untung ini sekira sudah 2 tahun.


"Mengenai pengukuran hampir sudah 10 kali dilakukan, baik secara manual bersama perangkat Desa Arisan Buntal, Dinas Pertanahan OKI juga Badan Pertanahan Nasional (BPN) OKI.

"Sedangkan persoalan negosiasipun sudah beberapa kali dilakukan, baik melalui pihak kecamatan, dinas pertanahan OKI dan juga pihak PT bahkan melalui pengadilan, namun belum ada kesepakatan. Hal ini disebabkan masalah selisih ukuran tanah, dimana dari ukuran semula luas tanah kita dari ukuran 3394 M2 ketika dilakukan pengukuran kembali menjadi 3166 M2, yang selanjutnya dilakukan lagi pengukuran menjadi 2977 M2 lalu dilakukan pengukuran oleh BPN menjadi 2382 M2, "lanjutnya.


Bukan hanya itu, permasalahan lainnya mengenai ganti untung mulai dari Rp. 360 juta, lalu diurus jadi Rp. 500 juta hingga Rp.600 juta, yang benarnya yang mana, ujarnya.

"Dari pihak BPN sendiri ukuran tanah kita hanya 2382 M2, tidak bisa diganggu gugat dan itu sudah final, tidak ada yang bisa mengubahnya, itu kata bu Marta dari BPN OKI, "ungkapnya.

Kami berharap pembayaran ganti untung sesuai dengan apa yang diharapkan oleh keluarga "Kito minta ganti untungnyo Rp. 1 Milyar", sebab selain ganti untung tanah, selama dua tahun ini keluarga besar tidak bisa lagi bertanam padi lagi, padahal bercocok tanam padi itulah satu-satunya mata pencaharian kami, kalau tidak sesuai dengan harapan kami, mugelah (meskipun,red) sampai mati tetap akan kami perjuangkan, meski sejengkal tidak akan mundur lagi, "tegasnya.

"Yang nak dibayar pemerintah hanya ukuran dari BPN 2382 kata bu Marta dari BPN hal tersebut tidak bisa diganggu gugat,"
Permeter nak di bayar Rp.108 ribu yang laen Rp.180 ribu, pokoknyo nak makmano bae, maseh nak Rp.1 Milyar tula," tandasnya.

Kepala Sesi IV Ima Fislianto melalui Kepala Koordinator Lapangan Waskita Sesi IV (STA 177-185) Budi Cahyadi saat dikonfirmasi wartawan,Selasa (23/10/2018) mengatakan, Waskita Karrya hanya sebagai pelaksana pembangunan jalan tol Pematang Panggang-Kayuagung, mengenai lahan warga yang belum diganti untung itu tangggung jawab pihak pemerintah atau pihak yang berkompeten masalah tersebut, "Kalau ganti untung lahan milik warga selesai baru kita lakukan penimbunan maupun pelaksanaan pembangunannya, kalau belum, ya kami tidak berani, itukan tanah warga, sebelum urusan tanah tersebut selesai, kami tidak bisa berbuat apa-apa, kan hak warga," jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPN OKI saat hendak dikonfirmasi belum bisa ditemui, menurut security BPN OKI, Manto, Kepala BPN lagi sedang tidak ditempat, kalau mau konfirmasi besok saja, bawa surat tugas dan apa keperluannya, kalau bu Marta tidak punya kewenangan untuk memberikan penjelasan, "tukasnya. (g-wijaya)

Tidak ada komentar