Header Ads


Breaking News

Kepedulian Jokowi Kepada Penyandang Disabilitas




Oleh: Anton Faisal*

Portalindo.co.id, Jakarta - Banyak hal yang patut diapresiasi pada pelaksanaan Asian Para Games 2018 dari Presiden Jokowi. Selain penampilan bersama atlet panahan disabilitas Rembulan dan Abdul Hamid saat  melesatkan anak panah untuk menghancurkan "DIS" yang semula "DISABILITY" menjadi "ABILITY", beliau juga menggunakan bahasa isyarat dalam pembukaan Asian Para Games 2018 kemarin. Sungguh terlihat begitu banyak makna yang melekat dan penuh dengan makna kekuatan dan kebersamaan. Ini membuktikan, bahwa Jokowi sangat antusias dengan kegiatan Asian Para Games 2018 sebagai bentuk tanggung jawab dalam melaksanakan pembukaan Asian Para Games 2018.

Pada pembukaan itu, Jokowi resmi membuka ajang Asian Para Games 2018 pada Sabtu, 6 Oktober 2018 dengan menggunakan bahasa isyarat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Pada kesempatan itu, Jokowi berharap lewat ajang olahraga bagi para disabilitas se-Asia ini bukan sekedar pertandingan semata, tetapi juga memupuk persaudaraan. Lewat Asian Para Games 2018, para atlet yang tampil menunjukkan kegigihan dan prestasi tinggi serta menjunjung kemanusiaan.
Aksi Jokowi itu disambut baik oleh para penyandang tunarungu. Aktivis tunarungu, Surya Sahetapy, mengatakan bahwa para penyandang tunarungu terharu dengan bahasa isyarat yang digunakan Jokowi. Bagi penyandang tunarungu, hal itu menunjukkan bahwa bahasa isyarat semakin diterima masyarakat luas.

Jokowi membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk belajar menggunakan bahasa isyarat tersebut. Jokowi sangat sabar dan bersedia untuk melatih secara berulang-ulang dalam menggunakan bahasa isyarat seperti dari bandara, berjalan kaki menuju pesawat, dalam pesawat bahkan di GBK sebelum opening dimulai. Ini membuktikan bahwa Jokowi sangat berempati terhadap penyandang disabilitas.
Dilansir dari sebuah blog pribadi,  Jerman merupakan salah satu negara yang mengintergrasikan orang disabilitas ke masyarakat. Bahkan, Pemerintah Jerman menetapkan sebuah kuota khusus untuk orang disabilitas di perusahaan, dan memiliki lebih dari 20 pegawai. Apabila perusahaan tidak bisa memenuhi kuota ini, perusahaan tersebut harus membayar denda minimal 105 euro (kurang lebih 1,5 juta rupiah).
Di Jerman, orang disabilitas juga mendapatkan kompensasi dari pengadilan kerja (Arbeitsgericht).

Kompensasi ini bisa berupa uang yang
'menggenapkan' uang gaji mereka apabila mereka tidak bisa bekerja full-time ataupun dua hari cuti ekstra per tahun dibandingkan teman-teman kerja mereka yang normal. Jika mereka membutuhkan sokongan finansial karena menyandang disabilitas berat, mereka bisa mendaftarkan diri untuk sebuah asuransi. Untuk mendapatkan semua jenis bantuan, seperti membutuhkan asuransi kesehatan ataupun perawatan yang disediakan negara. Namun, hal tersebut membutuhkan surat khusus, seperti surat disabilitas dari dokter spesialis.

Terkadang orang disabilitas juga kesulitan untuk melakukan pekerjaan rumah seperti mengepel lantai rumah dan menyusun tumpukan kardus di gudang. Seseorang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah dan juga merawat orang lain disebut sebagai juru rawat (atau dalam bahasa Jermannya, Pfleger(in)). Juru rawat ini mirip seperti suster di Indonesia, mereka memiliki pendidikan khusus untuk merawat orang disabilitas. Biaya untuk Pfleger(in) harus ditanggung sendiri atau sebagian bisa ditanggung asuransi kesehatan dari negara.
Untuk sehari-hari, orang disabilitas di Jerman memiliki bantuan langsung dari infrastruktur. Contohnya, tempat parkir khusus, bus khusus bagi para disabilitas  dan kebutuhan yang lain.

Sebelumnya, Jokowi menilai fasilitas umum untuk disabilitas di komplek Glora Bung Karno (GBK), sudah mencapai 80 persen dalam kategori baik. Presiden Jokowi mendorong seluruh kabupaten, kota, dan provinsi untuk membangun fasilitas umum yang ramah dengan disabilitas. Presiden Jokowi juga mendorong pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas dengan meminta Kementerian, Lembaga dan Pemerintah Daerah memberikan pendampingan kepada penyandang disabilitas untuk berwirausaha dan mendirikan badan usaha. Sehingga penyandang disabilitas mendapatkan peluang untuk maju, meningkatkan kesejahteraan diri dan keluarganya.

Aksi Jokowi yang belajar bahasa isyarat berhari-hari dan menggunakannya pada pembukaan Asian Para Games 2018 membuktikan bahwa Jokowi peduli dengan penyandang disabilitas dan berupaya agar bahasa isyarat dapat diakui publik sehingga Indonesia bisa meningkatkan dan memberdayakan kepedulian terhadap sesama meskipun dia penyandang disabilitas.

*Mahasiswa Univ. Indonesia
Laporan Ida Bastian

Tidak ada komentar