PDIP: Jangan persempit cara menjadi pemimpin hanya karena faktor elektabilitas
Cari Berita

PDIP: Jangan persempit cara menjadi pemimpin hanya karena faktor elektabilitas

Minggu, 06 Mei 2018


Portalindo.co.id - Jakarta - Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menilai penentuan cawapres Jokowi tidak hanya ditentukan oleh tingginya elektabilitas. "Jangan persempit cara menjadi pemimpin hanya karena faktor elektabilitas," kata Hasto di Kantor Ruangguru.com, Tebet, Jakarta, Jumat (4/5/2018).
Ketua Kogasma Partai Demokrat Agus Hatimurti Yudhoyono (AHY) dipilih 22,4 persen responden sebagai cawapres yang paling cocok mendampingi Jokowi menurut hasil survei lembaga riset Indikator Politik. 

Menurut Hasto, "Untuk menjadi pemimpin itu enggak bisa melalui goreng menggoreng, melalui survei, tapi melalui survei di tengah rakyat. Harus jelas dong apa yang sudah dilakukan buat rakyat, apa kinerjanya, prestasinya nanti yang dinilai oleh rakyat,
Jokowi membutuhkan sosok cawapres yang sudah terlihat kontribusi, prestasi serta pengabdiannya untuk rakyat. Selain aspek-aspek itu, sosok cawapres yang layak mendampingi Jokowi harus mempunyai kesamaan visi, misi dan bisa saling melengkapi.

Hasto di pertanyakan, apakah sepak terjang AHY memenuhi kriteria sebagai cawapres Jokowi, dia mengatakan pihaknya belum melakukan penilaian terkait hal tersebut.
"Ya nanti kan kita belum melakukan penilaian semua," Ujarnya.

Untuk calon wakil presiden, survei Indikator menempatkan dua nama terkuat calon presiden untuk disimulasikan yakni Jokowi dan Prabowo. Hasilnya, untuk Jokowi menurut partisipan survei cocok bila berpasangan dengan AHY, dengan persentase 22,4 persen.
Sebelumnya, Indikator Politik merilis hasil survei nasional terkait elektabilitas calon presiden dalam Pemilu 2019. Hasilnya, nama Jokowi dan Prabowo, disusul Gubernur DKI Anies Baswedan, Gatot Nurmantyo, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menduduki peringkat teratas.

"Siapa yang pantas menjadi wakil Jokowi di 2019, ada AHY 22,4 persen, Menteri Keuangan Sri Mulyani 10,8 persen, Mahfud MD 8,4 persen, Tito Karnavian 5,7 persen, Muhaimin Iskandar 4,0 persen, Chairul Tanjung 3,5 persen, Budi Gunawan 2,8 persen, dan Puan Maharani 2,4 persen," ungkap Direktur Eksekutif Indikator Politik Burhanuddin Muhtadi.(Red)